Sabtu, 17/08/2013 12:30 WIB
Makcomblang Sebut Makki 'Ungu' Bekas Kekasih Gelap Lala
Sabtu, 17/08/2013 10:04 WIB
Istri Pasha 'Ungu' Melahirkan Anak Laki-Laki Tepat di Hari Kemerdekaan
Jumat, 16/08/2013 22:01 WIB
Resepsi Pernikahan Makki dan Lala Digelar Tertutup
Jumat, 16/08/2013 21:03 WIB
Gelar Konser, Sammy Simorangkir Siap Bersaing dengan Metallica
Jumat, 16/08/2013 20:28 WIB
Ini Dia Video Klip Terbaru Avenged Sevenfold
Jumat, 16/08/2013 19:53 WIB
Diiring Lagu 'Tercipta Untukmu' Makki 'Ungu' dan Lala Menuju Pelaminan
Mahardian Prawira Bhisma - detikhot
Jakarta - Setiap tanggal 17 Agustus, seluruh rakyat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan dengan gegap gempita. Tapi penyanyi Mey Chan merasa kemeriahan 17-an semakin berkurang di kota modern seperti Jakarta.
Ketika Mey Chan remaja, ia selalu bersukacita mengikuti berbagai macam perlombaan setiap tanggal 17 Agustus. Ia juga melihat kemeriahan di setiap pelosok kampung.
"waktu kecil tinggal di Malang, ada acara balap karung. Sekarang di Jakarta nasionalismenya berkurang. 17-an sekarang malah kurang (perlombaan dan kemeriahannya)," ucap pasangan duet Maia itu saat ditemui usai mengisi sebuah acara di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Menurut Mey Chan, hal tersebut terjadi karena berbagai alasan. Selain perkembangan teknologi, pengaruh budaya pop dari negara lain juga cukup memberikan pengaruh.
"Teknologi canggih, dari HP bisa mencari apapun, pasti berbeda," tambahnya.
Sementara Maia memaknai Hari Kemerdekaan dari berbagai sudut pandang. Sebagai musisi, ia merasa telah merdeka dalam berkarya. Tetapi, Maia melihat semangat pemuda era kini dan jaman kemerdekaan dulu sudah begitu jauh.
"Pemuda zaman dulu benar memperjuangkan kemerdekaan, nasionalisme mereka tinggi, bukan memenangkan ego pribadi. Pemuda sekarang yang menjabat (di pemerintahan) berbeda dengan zaman dulu. 17 Agustus dulu dan sekarang beda mentalitasnya, jauh menurun. Dulu membela negara sekarang mengeruk negara. Demi partai dan diri sendiri," kritiknya.
(ich/ich)
Ketika Mey Chan remaja, ia selalu bersukacita mengikuti berbagai macam perlombaan setiap tanggal 17 Agustus. Ia juga melihat kemeriahan di setiap pelosok kampung.
"waktu kecil tinggal di Malang, ada acara balap karung. Sekarang di Jakarta nasionalismenya berkurang. 17-an sekarang malah kurang (perlombaan dan kemeriahannya)," ucap pasangan duet Maia itu saat ditemui usai mengisi sebuah acara di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Menurut Mey Chan, hal tersebut terjadi karena berbagai alasan. Selain perkembangan teknologi, pengaruh budaya pop dari negara lain juga cukup memberikan pengaruh.
"Teknologi canggih, dari HP bisa mencari apapun, pasti berbeda," tambahnya.
Sementara Maia memaknai Hari Kemerdekaan dari berbagai sudut pandang. Sebagai musisi, ia merasa telah merdeka dalam berkarya. Tetapi, Maia melihat semangat pemuda era kini dan jaman kemerdekaan dulu sudah begitu jauh.
"Pemuda zaman dulu benar memperjuangkan kemerdekaan, nasionalisme mereka tinggi, bukan memenangkan ego pribadi. Pemuda sekarang yang menjabat (di pemerintahan) berbeda dengan zaman dulu. 17 Agustus dulu dan sekarang beda mentalitasnya, jauh menurun. Dulu membela negara sekarang mengeruk negara. Demi partai dan diri sendiri," kritiknya.
(ich/ich)
Duo Maia vs Mahadewi.
Maia Kunjungi YPAC.
3
ConversionConversion EmoticonEmoticon